Melampaui Negeri Antara

Posted by on Jan 19, 2012 in Catatan FIMers | 2 comments

Ditulis Oleh Shofwan Al Banna C. (Penulis Buku, Juara 1 Kompetisi St. Gallen Symposium Universitas St. Gallen Swiss, Mahasiswa Ritsumeikan University, Alumni HI UI, Alumni FIM)

 

Di dunia manusia yang penuh keterbatasan, optimisme adalah visi yang mampu menembusi batas cakrawala zaman. Inilah yang telah dipilih oleh para pencetus sebuah negeri bernama Indonesia. Di awal abad ke-20, gagasan kemerdekaan itu lahir dari sekumpulan pemuda lugu berkulit gelap yang terdampar di negeri asing dan dingin bernama Belanda sebagai akibat dari dijalankannya Politik Etis.

Kesamaan nasib melahirkan kesamaan cita-cita, yang pada gilirannya membawa beragam organisasi pemuda yang berbeda latar belakang berdiri bersama-sama di bawah panji “Indonesia” itu. Walaupun orang-orang di sekeliling mereka bergetar dalam frekuensi kerinduan akan kemerdekaan yang sama, zaman sepertinya tidak banyak memberikan harapan: apa yang bisa dilakukan oleh kumpulan-kumpulan pemuda -tanpa banyak senjata, tanpa kuasa singgasana? Namun, mereka memilih percaya kepada optimisme. Sejarah kemudian menjawabnya dengan kelahiran sebuah bangsa.

Sayang, optimisme hanya berjarak setipis benang dengan penyakit bernama “delusi keagungan” (“delusion of grandeur”). Berbeda dengan optimisme yang menembus batas zaman, delusi keagungan memerangkap pengidapnya dalam fatamorgana yang mengaburkan kenyataan. Selama bertahun-tahun, kekayaan alam yang melimpah (terutama minyak bumi dan gas) membuat sebagian orang lupa bahwa benda-benda itu bukan tak terbatas. Mencoleng sedikit tak apa-apa, toh negeri ini masih kaya dan pembangunan tetap berjalan biasa. Budaya ABS (Asal Bapak Senang) melompatkan angka-angka kesejahteraan tinggi-tinggi untuk kemudian akhirnya terjerembab ketika Krisis Asia hadir menjelang pergantian milenia.

Sejarah pun mengantarkan bangunan delusi keagungan itu pada kehancuran, seiring dengan robohnya kekuasaan yang selama ini mengutamakan stabilitas politik dan ekonomi di atas kebebasan (dan demikian mematikan kreativitas yang merupakan saudara kandung dari optimisme). Namun, terbukanya kanal kebebasan itu ternyata juga membebaskan kita untuk terlalu senang mencaci nasib buruk yang kita percaya sebagai kenyataan. Pendulum pun berayun. Dari menipu diri dengan delusi keagungan, kita menjelma menjadi tak berani berpengharapan.

Digelayuti oleh penyakit bernama defisit optimisme ini, Indonesia menyongsong abad 21: zaman yang disebut-sebut sebagai era baru yang dipenuhi ketidakpastian.

 

Negeri-Antara

Semasa SD, para guru mengajarkan kepada kita bahwa nusantara kita ini menjadi penting, salah satunya, karena letaknya sebagai “negeri-antara”: antara dua samudera dan antara dua benua. Kini, sejarah membawa nusantara menjadi “negeri-antara” yang tidak hanya dalam artian geografis.

Parag Khanna mencatat bahwa salah satu karakteristik dari “dunia ketidakpastian” adalah kehadiran negeri-negeri yang disebutnya sebagai “Dunia Kedua”. “Dunia Kedua” yang sekarang dan akan datang, katanya, bukanlah Dunia Kedua dalam kacamata Perang Dingin (yang merujuk pada negara-negara komunis), melainkan negara-negara yang menyaksikan keberdampingan “Dunia Pertama” dan “Dunia Ketiga” dalam satu wilayah yang sama. Di satu negeri, kita akan menjumpai orang-orang yang berstandar hidup Swiss dan semenderita penghuni Sub-Sahara Afrika.

Oposisi yang akan berdampingan tidak hanya dari aspek ekonomi dan tingkat kehidupan saja. James N. Rosenau memperingatkan bahwa laju globalisasi akan melahirkan paradoksnya sendiri. Ia menyebutnya sebagai “fragmegration”. Fragmegration (merupakan gabungan dari “fragmentation” dan “integration”) mengisyaratkan bahwa globalisasi membuat manusia semakin terseragamkan sekaligus semakin terbelah-belah. Gerai McDonald dan internet hadir di mana-mana, namun kelompok-kelompok yang mengkristalkan identitasnya (seperti Front Pembela Islam, Forum Betawi Rempug, Laskar Merah Putih) pun semakin membanjiri jalan dan pemberitaan.

Indonesia pun menjelma menjadi “negeri-antara”: satu kaki di Dunia Pertama dan kaki lainnya di Dunia Ketiga, satu tangan menggenggam kekayaan dan tangan lainnya mengaisi kemiskinan, satu lubang hidungnya menghirup modernitas dan satunya bernafas dengan tradisi dan identitas, satu matanya mengerling pada dunia sementara satunya menutupnya. Kondisi demikian menempatkan kita di antara dua hal: tantangan dan kesempatan.

 

Tantangan dan Kesempatan

“New states will emerge from remaining cases of decolonization and to communal tensions leading to state secession, most likely in sub-Saharan Africa, central Asia, and Indonesia.”

(Negara-negara baru akan lahir dari sisa-sisa dekolonisasi, menuju konflik komunal, yang kemudian menghadirkan pemisahan negara…paling mungkin di Sub-sahara Afrika, Asia Tengah, dan Indonesia.)

-CIA Global Trends 2015

The intensification of internal conflicts in many of Asia’s multinational states, such as Indonesia, India, China, and the Philippines, as well as in the Russian federation, should alert us to the possibility of new state formations in those regions.
(Intensifikasi konflik-konflik internal di negara-negara multi-bangsa Asia seperti Indonesia, India, Cina, Filipina, dan juga di Federasi Rusia, seharusnya memperingatkan kita tentang kemungkinan kelahiran formasi baru negara-negara di wilayah-wilayah tersebut) -Brynjar Lia, 2005

Kedua ramalan di atas hanya sebagian kecil dari banyak fatwa tentang masa depan Indonesia yang mengkhawatirkan. Tegangan-tegangan yang hadir dalam sebuah “negeri-antara” (antara kelas kaya dan kelas miskin, antara modernitas dan tradisi, dan seterusnya) sangat berpeluang untuk melontarkan sebuah negara kepada tiada. Jika “tegangan-tegangan” ini tidak dikelola dengan baik, alih-alih melampaui “negeri-antara” (dengan meratakan kesejahteraan, mengharmoniskan hubungan antara tradisi dan modernitas, dan seterusnya), banyak yang percaya bahwa Indonesia akan tamat riwayatnya.

Mari bersyukur bahwa tidak hanya kabar buruk yang datang menyapa. Posisi Indonesia akan semakin penting seiring dengan lahirnya Cina dan India sebagai raksasa. Pada akhir tahun 1990-an, Bank Dunia dan OECD telah memprediksikan bahwa pada dekade kedua milenium ketiga, Cina akan menjelma sebagai “Ekonomi Terbesar Dunia”. Amerika Serikat pun tidak memungkiri pergeseran ini. Trend Global 2015 yang dipublikasikan oleh badan intelejen Amerika Serikat, CIA, meramalkan bahwa Asia akan menjadi “wilayah yang paling cepat tumbuh di dunia” (the fastest growing region in the world). Meskipun prediksi Bank Dunia dan OECD itu kini terdengar terlalu bombastis jika kita melihat kemunculan berbagai masalah di Cina yang memperlambat laju kemajuan ekonominya, setidaknya pergeseran itu masih tetap terbukti adanya. Menemani Cina, India adalah ekonomi yang tumbuh sangat pesat dan dilihat sebagai motor pertumbuhan Asia.

Posisi Indonesia sebagai “negeri-antara” yang menjembatani Timur dan Barat juga akan bermanfaat. Negara-negara Barat (terutama Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang) tetap akan memainkan peranan penting dalam politik dan perekonomian global meskipun harus tertatih-tatih keluar dari krisis. Iran, di tengah embargo dari negara-negara maju, ternyata mampu membuktikan diri sebagai bangsa yang berdaulat dan berdiri sendiri dengan mentahbiskan diri berada di jajaran negara-negara yang meluncurkan satelit ke luar angkasa. Rusia, dalam komando Putin, kini mulai berani melakukan perang “urat syaraf” pada Amerika Serikat. Negara-negara Timur Tengah dengan aset berupa minyak bumi juga akan semakin penting.

 

Tinggal Landas: Melompat dengan Keyakinan

Tengoklah langit Amerika Serikat di awal abad 20: yang menjadi awan bukanlah kedigdayaan, melainkan mendung kekhawatiran. Sepanjang tahun 1929 hingga 1937, mereka mengalami depresi ekonomi terbesar sepanjang sejarah. Orang-orang berkerumun di jalan-jalan, melambai-lambaikan permohonan untuk dipekerjakan. Krisis yang seakan-akan menutup segala ruang itu ternyata malah melompatkan Amerika Serikat pada aras yang lebih tinggi. Ilmu ekonomi berkembang dengan pesat (dan masih kita gunakan hingga saat ini). Berbeda dengan reaksi negeri-negeri Eropa yang memilih pesimisme dengan melakukan strategi ekonomi “Beggar-Thy-Neighbor Policy” yang saling memiskinkan negara tetangga dan akhirnya memicu Perang Dunia, Depresi Besar itu justru membuatnya terbuka pada dunia. Politik isolasi yang sekian lama mengurung negeri itu berakhir, dan Amerika Serikat tinggal landas. Pada tahun 1942, mereka memasuki Perang Dunia Kedua untuk kemudian tampil sebagai pemenang. Pax Brittanica berakhir, Pax Americana dimulai.

Di tengah-tengah peluang dan tantangan, perubahan paling mendasar yang diperlukan sebuah bangsa adalah mengkudeta pesimisme dan menggantinya dengan kepercayaan diri dan optimisme. Tentu, kita harus mewaspadai hadirnya delusi keagungan.

Yang membedakan antara optimism, delusi keagungan, dan pesimisme adalah “orientasi” mereka terhadap aliran sejarah. Delusi keagungan menghinggapi mereka yang melihat masa lalu dengan terkagum-kagum, lalu kekaguman itu menutupi mereka dari kejernihan untuk melihat hari ini dan merencanakan masa depan. Pesimisme juga diciptakan oleh orientasi masa lalu, entah gemilang entah terbuang, lalu menutup diri dari masa depan dengan meratapi masa kini. Optimisme berbeda: ia dijiwai oleh keberanian untuk merancang masa depan dan mengambil yang terbaik dari hari ini dan masa lalu.

Bangsa yang disesaki oleh orang-orang optimis menjanjikan hadirnya inovasi-inovasi baru, jalan keluar yang tak pernah terpikirkan, kemampuan berpikir “di luar kotak”, keterbukaan untuk menyerap kebaikan dari segala arah, serta gravitasi untuk mengoptimalkan segala potensi. Di samudra ketidakpastian, itulah bahan-bahan bagi perahu kebangkitan.

 

Daftar Pustaka

Barber, Benjamin. Jihad Vs McWorld. (Times Books, 1995)

Baylis, John and Smith, Steve. The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations. (Oxford University Press, 2005)

Khanna, Parag. The Second World: Empires and Influence in the New Global Order. (Random House, 2008).
Lia, Brynjar. Globalization and the Future of Terrorism: Patterns and Predictions. (Routledge, 2005).

Rosenau, James N. Distant Proximities: Dynamics Beyond Globalization. (Princeton University Press, 2003).
Van Miert, Hans. Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930, (Hasta Mitra, KITLV, Pustaka Utan Kayu, 2003).

 

2 Comments

  1. mencerahkan bang sofwan. menarik untuk jadi bahan diskusi lanjutan, bagaimana dampaknya “negeri antara” ini bagi sosial-budaya masyarakat “urban”, “sub-urban”, dan “rural”. Terpikir lebih spesifik untuk membahas mengenai “kearifan lokal” atas hakikat “budaya” sendiri yang sangat luas, masih eksis tidak ya? apakah ada percampuran kearifan lokal dengan borderless-nya dunia seperti saat ini? :)

  2. mencerahkan bang sofwan. menarik untuk jadi bahan diskusi lanjutan, bagaimana dampaknya “negeri antara” ini bagi sosial-budaya masyarakat “urban”, “sub-urban”, dan “rural”. Terpikir lebih spesifik untuk membahas mengenai “kearifan lokal” atas hakikat “budaya” sendiri yang sangat luas, masih eksis tidak ya? apakah ada percampuran kearifan lokal dengan borderless-nya dunia seperti saat ini? :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>