Categories:
nafiza

Nafizah: “Ibu” Pelindung Anak Madura
Oleh Nafizah, FIM 16

Nafizah, seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang juga merupakan alumni FIM angkatan 16. Dia dilahirkan tanggal 8 Juni 1994 di sebuah rumah sederhana tepatnya di Dusun Pliyang, Desa Tanggumong, Sampang, Madura. Seorang perempuan hebat yang melahirkannya bernama Umi Hapsaniyah, didampingi laki-laki hebat pula bernama Abah Hamid Arif.

Mengenai pendidikan, masyarakat di lingkungan rumahnya memang tidak terlalu peduli dengan hal ini, yang penting adalah anaknya menikah dan menjadi orang (baca : Pegawai Negeri). Meskipun ayah dan ibunya hanyalah tamatan sekolah dasar, dia tak mau menyerah. Justru menjadi alasan baginya untuk terus mengembangkan diri. Sejak SD hingga SMA ia mulai sering mengikuti lomba dan kegiatan di luar sekolah. Awalnya dia mengaku susah mendapatkan izin dari orangtuanya, Namun, seiring berjalannya waktu, Abah dan Uminya lah yang kemudian mendoakan dan men-support-nya disetiap langkah perjalanan hidupnya.

Perempuan yang satu ini dikenal sebagai aktivis perlindungan anak sejak duduk dibangku SMA. Selama ini, Nafiz menjadi Ketua Komite Anak Sampang, Ketua Komite Anak Pusat Informasi Konseling Tik@r Sakera Sampang, dan pernah menjadi bagian dari Duta Anak Jawa Timur 2011. Nafiz dan lembaganya mendapati banyak kasus anak seperti si Roni yang harus ujian di balik jeruji besi karena dituduh melakukan kekerasan, si Amanda yang diperkosa oleh pacarnya, puluhan anak tak sekolah dan mengalami trauma hebat saat adanya konflik sosial sampang, si Ina anak TK yang menjadi korban pencabulan oleh seorang tukang becak, si Juki mencuri sepeda motor karena disuruh tetangganya dan harus berada dibalik jeruji besi bersama penjahat kelas kakap, puluhan anak desa jadi korban trafficking, puluhan gadis menjadi korban kekerasan dalam pacaran, beberapa siswa yang harus menanggung malu karena hamil di luar nikah saat sekolah, kasus pelecehan seksual, kekerasan di sekolah, anak dengan minuman keras dan video porno, aparat pemerintah yang memerkosa anak, dan Si Budi meninggal karena adanya fasilitas umum tak layak anak dan masih banyak kasus lainnya.

“Bicara kekejaman dan kejahatan pada anak, tak kan berkesudahan jika kita urai per biji kasusnya. Di tanah air beta ini, jutaan anak berjuang untuk hak-haknya sendiri. Yang terungkap memang banyak, Tapi yang belum terungkap ? Apakah jauh lebih sedikit? Kasus-kasus ini tentu tak kan terjadi jika semua elemen paham akan maksud hak anak yang tercantum pada Undang-Undang no.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Saat ini, lingkungan kita sudah tak aman bagi anak,” jelasnya.

Perempuan yang sering dipanggil “Ibu” oleh anak-anak ini, kemudian pada tanggal 23 Juli 2013, bersama rekan-rekannya memutuskan untuk membuat sebuah gerakan perlindungan anak yang mereka namakan Rumah Jamoer. Rumah Jamoer merupakan sebuah gerakan untuk menjamurkan kegiatan-kegiatan yang postif untuk mendukung tumbuh kembang dan perlindungan anak, mengajak orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk ikut serta menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak. Hingga saat ini, mereka telah ada di tiga desa, tiga kecamatan, dan dua kabupaten di Pulau Madura. Rumah Jamoer tidak hanya dimiliki oleh anak-anak saja, namun juga orang tua. Mereka bekerja sama dengan orang tua anak untuk bersama menciptakan lingkungan yang baik bagi tumbuh kembang anak. Karena mereka yakin bahwa lingkungan yang baik akan melahirkan bibit-bibit pemimpin bangsa yang baik pula di masa depan.

Rumah Jamoer merupakan salah satu langkah preventif untuk mengurangi angka kejahatan oleh dan kepada anak. Dengan menciptakan lingkungan yang positif, maka anak-anak pun akan memiliki tumbuh kembang yang positif pula dan dapat meng-upgrade dirinya dengan baik. Bentuk kegiatan di dalam Rumah Jamoer lebih pada menghargai hak orang lain, penanaman cinta pada sesama, dan mengenal alam dan budaya serta nilai-nilai luhur lainnya. Adapun tools yang digunakan berupa perpustakaan mandiri yang dikelola oleh anak-anak jamoer sendiri, grup musik tradisional Daol Dug-Dug, pengamatan bintang, pelestarian permainan tradisional, dan menulis surat untuk orang tua dan pemerintah sebagai salah satu hak anak (hak berpendapat), dan unjuk bakat serta masih banyak kegiatan lainnya.

Saat ditanya, mengapa namanya Rumah Jamoer. Ia menjelaskan filosofinya bahwa Jamur dapat hidup diberbagai tempat, di tempat yang baik dan juga ditempat yang kurang baik seperti di selokan. Jamur juga ada yang bermanfaat bagi kita (bisa dimakan) adapula yang merugikan dan menjadi racun. Jamur hidup dan berkembang dari substrat (lingkungannya). Nah, sama seperti anak. Anak dapat tumbuh dengan baik, jika lingkungannya juga baik. Namun, jika lingkungannya tidak mendukungnya, maka dia akan memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi anak yang kurang baik. Oleh karena itu, peran lingkungan sangat dibutuhkan oleh seorang anak dimasa pertumbuhannya.

Hingga saat ini, dukungan untuk Rumah Jamoer pun semakin banyak. Mulai dari kesadaran orang tua anak, pemerintah setempat, komunitas pemuda setempat, dan dari donatur-donatur yang rutin mendukung Rumah Jamoer serta pak menteri, Anies Baswedan yang juga mendukung Rumah Jamoer melalui pembuatan film inspiratif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berjudul “Siti Fatima” yang juga merupakan salah satu inisiator adanya Rumah Jamoer. Harapannya, Rumah Jamoer akan terus menjamur ke seluruh tempat di pelosok negeri.

Selain aktif di kegiatan perlindungan anak, sebagai anak daerah, ia merasa berhak untuk ikut berkontribusi bagi daerahnya. Saat di masa kuliah, ia aktif di FORMAS ITS-PEN-PPNS sebagai sekretaris, inisiator adanya Kelas Inspirasi di Sampang, Departement Keilmiahan dan Keprofesian HIMAGE-ITS, Sahabat Tutor di ITS Mengajar, External Relation Surabaya Menyala, ITS Esri Education Centre, dan Mutiara angkatan 4 serta bagian dari Forum Indonesia Muda regional Surabaya (FIM Heroes).
Sejak SMP ,ia juga telah menorehkan berbagai prestasi seperti Juara 1 Basket se-Madura, Juara 2 Fashion Batik se-Madura saat kelas 3 SMP, Juara Modeling, Juara 2 OSN kebumian Kab.Sampang, Juara Olimpiade Geografi, menjadi penari tradisional dan lainnya.

Kemudian saat dibangku kuliah ia juga aktif membuat karya yang sesuai dengan keilmuannya seperti 3D Cadastre untuk permasalahan pendaftaan tanah di Indonesia (Juara 1 PENSIL Mahasiswa 2013), Ocean Wave Energy Estimation Using Active Satellite Imagery As A Solution Of Indonesia’s Energy Scarce (Case Study: Madura’s Remote Island) untuk mencari potensi energi gelombang laut sebagai salah satu solusi Pembangkit listrik di Pulau Poteran Madura serta Effective Salt Pond Potential Area Mapping using Geographic Information System-Based Map and Analysis (Case Study: Sampang, Madura) yaitu pembuatan peta potensi tambak garam untuk meningkatkan produksi garam bagi para petani garam dengan menentukan daerah potensi garam yang tepat, karya ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kabupaten Sampang, menjadi Juara 1 dalam Lomba Geospasial inovatif Nasional 2014 serta dapat menjadi wakil indonesia di HISAS 2015, Hokkaido University, Jepang .
Saat ditanya, Bagaimana caranya menyeimbangkan antara hobi, organisasi dan study-nya ia menjelaskan…

Kita diberikan dua pilihan oleh Tuhan. satu, diam dan yang kedua bergerak. Dan aku pilih yang kedua. Ku melakukan semua ini untuk abah dan umi, ku harap apa yang ku lakukan dapat memberatkan amal kebaikan mereka di akhirat kelak karena telah mejaga dan merawatku dengan baik.

Menyeimbangkan hobi, organisasi, dan studi itu, susah. Susah, jika kita tak melakukannya dengan CINTA. Milikilah Cinta, maka kau akan merasa bahagia menjalaninya. Meski tubuhmu berdarah-darah pun, jika dengan cinta, maka kau tetap akan bersyukur dan tersenyum.

Sebagai anak bangsa, apa yang ku lakukan masih terlalu kecil dan masih sangat jauh untuk mengubah nasib bangsa ini. Walau begitu, sekecil apapun yang ku lakukan, sekecil apapun manfaat untuk negeri ini, tetap harus aku lakukan sepenuh hati untuk memenuhi kewajibanku yaitu men-CINTAi bangsa ini.

“Ku pikir, Tak ada peran yang tak dapat menjadi solusi dari permasalahan masyarakat kecil. Pun dengan dirimu. Sangatlah masyarakat membutuhkanmu. Bukan mencari-cari masalah. Namun, menyelesaikan masalah. Bukan masalah prestasi mu tinggi. Tapi, nilai ilmumu yang tinggi. Bukan tentang siapa kamu, tetapi, apa kontribusimu? Bukan menjadi penuntut perubahan, tetapi jadilah penggerak perubahan. Pemuda, Ayolah ! Rakyat sedang menunggu tanggung jawabmu. Tanggung jawab atas janjimu untuk ibu Pertiwi. Bergeraklah !”

Catatan: nama-nama yang diawali dengan “Si” merupakan nama samaran.

Hubungi :
fanspage : Rumah Jamoer “Perlindungan anak”