Categories:
ari

Ari (Rafi Putra Arriyan – Forum Indonesia Muda 17) dan Mimpinya Untuk Membuat Transfer Antar Bank Menjadi Tanpa Biaya.

Halo perkenalkan saya Rafi Putra Arriyan biasa dipanggil Ari, FIM 17.

Saya lahir di Padang, 8 Juli 1994 dan dua bulan yang lalu saya baru saja lulus dari jurusan Ilmu Komputer, Universitas Indonesia.

Saya tidak menyangka akan menjadi sarjana.

Dahulu saya tidak ingin melanjutkan kuliah, karena ingin menjadi musisi setelah lulus SMA. Namun orang tua saya tidak mengizinkan.

Karena ridho Allah adalah ridho orang tua, maka saya pun berkuliah di jurusan ilmu komputer UI.

Namun saya tetap berpegang pada mimpi untuk menjadi musisi.

Saat masih tahun pertama saya bergabung dengan Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia. Dengan semangat serta latihan yang tekun, saya terpilih sebagai salah satu pasukan untuk mewakili Indonesia di kompetisi marching band tingkat dunia, dan alhamdulillah kami mendapatkan juara 2.

Pada titik ini saya merasa bahwa rasanya bermain musik bukanlah tujuan hidup saya. Saya pun mencoba mencari kegiatan lain.

Hingga akhirnya pada tahun kedua dan ketiga kuliah, saya mencoba berbagai hal, mulai dari menjadi volunteer kegiatan sosial, bergabung di BEM UI, hingga menjadi salah satu anggota Badan Kelengkapan Majelis Wali Amanat UI. Namun saya masih merasa belum menemukan tujuan hidup saya.

Semuanya berubah saat saya bekerja di Kitabisa.com.

Saya bergabung di Kitabisa sebagai anak magang saat masih bernama Kitabisa.co.id. Di sana saya belajar banyak mengenai dunia startup dari co-foundernya, kak Timmy dan kak Vikra. Saat itulah saya merasakan senangnya membuat produk untuk membantu banyak orang. Dari Kitabisa, saya menemukan tujuan hidup saya.

Berawal dari sana, saya pun bertemu dengan Luqman dan Ginanjar.

Luqman dan Ginanjar adalah teman satu fakultas saya, kami sering mengerjakan proyek-proyek skala kecil bersama untuk dijadikan modal jalan-jalan ke luar negeri. Sampai suatu saat di akhir tahun 2014, kami mengikuti Hackathon Startup Asia 2014, dan alhamdulillah kami meraih juara 1 untuk kategori Intel Challenge dengan sebuah produk yang bernama Pushla.

Dari sana kami merasa, sepertinya seru juga membuat produk bersama-sama. Kami pun melanjutkan pengembangan Pushla hingga dipakai oleh cukup banyak orang (liputan Pushla dapat dilihat di (http://tekno.tempo.co/…/cara-mudah-berdonasi-ala-mahasiswa-…). Namun setelah menjalankan Pushla selama beberapa bulan, kami merasa bahwa Pushla tidak terlalu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat, hingga akhirnya kami melakukan pivot dan mencoba untuk membuat produk yang baru.

Pada masa-masa itu kami mengalami kegalauan akut. Kebingungan ingin menyelesaikan masalah apa. Setelah melakukan ratusan kali brainstorming, kami pun terpikirkan akan transfer antar bank di Indonesia.

Kenapa transfer antar bank ada biayanya?

Saat melihat ke negara lain, rata-rata negara yang sudah maju, transfer antar bank sudah tidak ada biaya. Kenapa di Indonesia masih ada?

Dan kami bertiga memutuskan untuk mencoba menyelesaikan masalah ini.

Hingga akhirnya dua bulan yang lalu saya membuat keputusan ini. Full time bekerja bersama Luqman dan Ginanjar mengembangkan sebuah aplikasi yang sekarang bernama Flip.

Kami bertiga membuat sebuah aplikasi untuk membuat transfer antar bank menjadi tanpa biaya.

Saat kami menceritakan ide dari aplikasi ini, banyak yang menganggap kami bercanda dan meragukan kami untuk mewujudkan ide tersebut. Bagaimana mungkin, sebuah tim yang terdiri dari tiga orang anak muda, tanpa modal, baru lulus kuliah, tanpa pengalaman di bidang perbankan, membuat sesuatu yang dapat menghilangkan biaya yang sudah ada sejak dahulu kala, bahkan sebelum mereka lahir ke dunia (saya lahir tahun 1994).

Namun kami tetap berusaha untuk mewujudkan ide ini.

Bermodal bantuan yang Maha Kuasa, izin dari orang tua, dan keyakinan dari kata-kata Bung Karno bahwa 10 pemuda bisa mengguncang dunia (walau tidak mengguncang dunia, kami bertiga yakin bisa sedikit mengubah biaya transfer antar bank), prototipe Flip pun diluncurkan satu bulan yang lalu, bermodalkan form online dengan target pengguna, teman-teman kami.

Ternyata respon yang kami dapat di luar ekspektasi.

Dalam 4 hari pertama, Flip telah memproses hampir 100 transaksi dan terus meningkat sampai hari ini. Dari sebuah ide yang dahulu tidak ada yang mempercayainya, dalam waktu satu bulan, ide tersebut telah membantu ratusan orang menghilangkan biaya transfer antar bank dengan nilai transaksi ratusan juta rupiah.

Dan pada saat ini kami merasa bahwa sudah saatnya Flip untuk mulai digunakan oleh pengguna di luar lingkaran pertemanan kami. Teman-teman dapat menggunakan Flip melalui https://goflip.me/beta .

Namun hal yang paling kami syukuri dari proses pengembangan Flip bukan sekadar validasi dari ide yang sebelumnya pernah kami miliki. Dari seluruh proses ini, kami tersadarkan bahwa Flip dapat menyelesaikan masalah yang lebih besar lagi.

Dimulai dari aplikasi untuk melakukan transfer beda bank tanpa biaya, kedepannya Flip dapat menjadi sebuah institusi keuangan yang setara dengan bank. Dan pada saat Flip sudah sampai pada tahap itu, kami bermisi untuk menyelesaikan satu masalah yang selalu ada namun seakan semua orang menutup mata. Masalah itu adalah riba, dan dengan Flip kami yakin, kami dapat menyelesaikannya.

“Don’t worry about what anybody else is going to do. The best way to predict the future is to invent it.” – Alan Kay