Categories: Lebih Dekat
02

Puisi “Surat Rindu Untuk Ayahanda Negeriku”

Rabu 12 Agustus lalu,

Dalam semangat mentari pagi Tanah Kusir,

aku bergegas  menghampiri tempatmu berbaring tenang.

Gonjong anam baanjuang Rumah Gadang menyambut ramah di pintu gerbang,

Mengingatkanku pada 113 tahun lalu di rumah lahirmu Ranah Minang.

 

Ayahanda Negeriku,

Tepat 5 hari setelah hari lahirmu dikenang,

Kini keluarga besar Bangsa kita kembali satukan ruang.

Peringati 70tahun kemerdekaan yang telah engkau proklamirkan.

 

Ayahanda negeriku,

70 tahun Indonesia merdeka, ternyata tak hanya kabar baik menyapa Bangsa kita.

Dalam pekan lalu, kami tidak bisa memasak rendang, karena di pasar-pasar tradisional daging sapi menghilang.

Rupiah yang dicetak penuh warna, tak ada harga dibanding uang orang yang hanya hitam putih saja.

Tapi bukan itu puncak risau kami.

Pesanmu untuk merawat dan mendidik anak muda agar terus kuat, kini dihantam badai yang memilukan.

Setiap hari, 50 orang anak Bangsa meninggal karena narkoba. Setiap hari pula 150 ribu pekerja seks komersial menjajakan maksiat dan sepertiganya adalah anak-anak yang belum genap dosa.

Bukan hanya itu Ayahanda negeriku,

Badai pornografi yang menyelip di tengah gempitanya kemajuan teknologi setelah era reformasi, telah mengantarkan anak-anak menjadi penjahat yang tak punya hati.

Kejahatan seksual kini marak di semua Provinsi.

Anak-anak yang kecanduan itu, tidak hanya memperkosa anak tetangga, namun juga saudara kandung bahkan Ibunya sendiri.

Tidak aneh jika kini anak-anak tidak lagi sekedar korban, namun pelaku dan otak kejahatan. Belum lagi  2,4 juta angka aborsi pertahun, yang sepertiganya dilakukan pelajar putri kenyes-kenyes…kinyi-kinyi. Aduhai risaunya hati.

 

Ayahanda negeriku,

Beberapa waktu lalu, aku membersamai para pemuda terpilih negeri ini berbuat sesuatu di pustaka pribadimu.

Jejeran buku, dari loteng hingga lantai batu, menunjukkan betapa dirimu cinta ilmu.

Buku yang menjadi karibmu ke manapun pergi, menjadikan dirimu pejuang literasi yang dikenang hingga kini.

Namun aku malu membisikkan yang satu  ini.

Pastilah Ayahandaku akan luka hati, jika mendengar kabar yang menyampaikan data terkini, bahwa dari seribu manusia Indonesia, hanya 1 orang saja yang suka membaca.

Lalu di luar jendela rumah kita, ada 1,3 juta  anak-anak usia  7-15 tahun  kini terancam putus sekolah. Aduh bagaimana caranya kita menguasai sumber daya alam nan katanya melimpah?

 

Ayahanda negeriku,

Betapapun ingin kusampaikan berbagai berita bahagia, bahwa kini namamu harum menjadi teladan terdepan yang abadi dikenang berganti zaman.

 

Ayahanda Negeriku.

Tentang integritasmu yang tiada dua itu, membuat aku kini tertunduk malu,

Segala puja-puji tentang dirimu ternyata tak sepadan

Antara kata dan perbuatan.

Rumah sederhana peninggalan sejarah hidupmu, kini digandoli beratnya pajak.

Yang menjadi alasan para penguasa uang untuk merebut tempat yang dikenang layak.

Bukan hanya peran sejarahmu yang kadang  kerap dilemahkan,

Bahkan tanda tanganmu yang beredar di wikipedia itupun ternyata palsu.

Namun sebuah bank milik negara mengcopynya pula atas nama 70 Tahun Indonesia merdeka.

Dan  tentang pemikiranmu yang jauh melampaui zaman itu, ternyata masih menjadi misteri dalam 12 jilid karyamu yang hingga kini tak kunjung jadi buku

Tumpukan naskahnya masih mengendap di sebuah lembaga anu karena ketiadaan sponsor yang tergerak hendak.

Ketiadaan biaya menjadi alasan yang sama, mengapa film sejarah hidupmu tidak jadi-jadi.

Ketiadaan biaya demi ketiadaan biaya, kerap kini menjadi jurus jitu pelarian kami,

Karena malas untuk berkreasi…karena kerja keras tidak menjadi hobi.

Tentu ini menjadi pelengkap ironi,

di tengah sikap hidup foya-foya sebagian penyelenggara negara,

Yang di antaranya kini sudah dicokok KPK.

*

Ayahanda negeriku,

Di antara begitu banyak harapan dan kemajuan yang engkau pikirkan dahulu.

Ternyata kini masih saja menjadi catatan harapan dan pesan-pesan.

Tidak semua rancangan mulia dapat terwujudkan,

Karena para pemimpin elok teladan tidak selalu ada stok  di setiap jaman.

 

Ayahanda Negeriku,

Di antara rasa malu dan perih nan membelenggu,

ijinkan aku menabur untaian melati suci ini,

Di antara dua penanda tempatmu berbaring kini,

kuselip salam rindu tak terperi.